Surabaya – Ketua Bidang Usaha dan Tarif DPP GAPASDAP Rakhmatika Ardianto menegaskan kebutuhan paling mendesak di lintas penyeberangan Ketapang–Gilimanuk saat ini adalah penambahan dermaga, bukan penambahan kapal baru.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul informasi mengenai rencana penambahan sembilan unit kapal di lintas penyeberangan Jawa–Bali tersebut.
Menurut Rakhmatika, saat ini sudah terdapat 56 kapal yang mengantongi izin operasi. Namun, keterbatasan jumlah dermaga membuat seluruh kapal tidak dapat beroperasi secara bersamaan.
Akibatnya, kapal harus bergiliran dan rata-rata hanya dapat beroperasi sekitar sembilan hingga 10 hari dalam satu bulan.
“Kalau sembilan kapal tambahan benar-benar dimasukkan, jumlah kapal menjadi sekitar 65 unit, sementara dermaganya tidak bertambah. Ini tidak meningkatkan kapasitas angkut, tetapi hanya memperpanjang antrean,” kata Rakhmatika, Jumat (28/8/2026).
Ia menilai penambahan kapal tanpa pembangunan infrastruktur pendukung berpotensi semakin menekan perusahaan pelayaran yang telah lama berinvestasi dan melayani lintas tersebut.
GAPASDAP menyoroti adanya fasilitas di Ketapang yang belum memiliki pasangan dermaga di Gilimanuk, termasuk Dermaga Bulusan dan dermaga ponton yang saat ini sedang diperbaiki.
Karena itu, pemerintah didorong membangun sedikitnya dua dermaga tambahan di Gilimanuk.
Menurut Rakhmatika, penambahan satu pasang dermaga dapat meningkatkan kapasitas pelayanan secara signifikan karena kapal-kapal yang dibutuhkan sebenarnya sudah tersedia dan hanya menunggu giliran beroperasi.
“Dengan penambahan dermaga, jumlah kapal yang dapat beroperasi setiap hari bisa langsung meningkat tanpa harus menambah izin kapal baru,” ujarnya.
Ia menambahkan pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh sebelum memberikan atau mengaktifkan izin kapal tambahan.
Kajian tersebut harus memperhitungkan jumlah kapal, kapasitas dermaga, tingkat keterisian, pola permintaan penumpang, hingga keberlanjutan usaha perusahaan pelayaran.
“Jangan hanya berorientasi pada penambahan armada, sementara kapal yang sudah ada belum dapat beroperasi secara optimal,” tegasnya.
