SIDOARJO — Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) mengapresiasi kesiapan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Siwalan Panji, Kecamatan Buduran, Sidoarjo. Dapur ini dinilai siap menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi para siswa di wilayah tersebut.
“Menurut saya, apa yang dilakukan SPPG Siwalan Panji ini betul-betul memenuhi standar dan bahkan sedikit di atas standar yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN),” kata Bambang saat meninjau lokasi, Rabu.
Saat menginspeksi dapur, BHS memeriksa secara rinci fasilitas penyimpanan bahan pangan, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), sirkulasi udara, hingga proses distribusi. Ia menilai seluruh kondisi fasilitas dan pengelolaan dapur sudah tergolong baik.
Meski memberikan pujian, BHS mendorong pengelola untuk segera mengurus sertifikat higiene sanitasi. Ia juga meminta pengelola meningkatkan kualitas beras atau bahan pangan yang digunakan dari kategori medium menjadi premium.
“Percepatan perizinan harus tetap disertai pemenuhan standar kualitas dan keamanan pangan,” tegas Anggota DPR RI tersebut.
BHS turut mengapresiasi waktu distribusi makanan yang berlangsung cepat di bawah empat jam. Selain itu, ia menyarankan variasi menu disesuaikan dengan kelompok usia penerima manfaat, mulai dari anak TK hingga SD, agar nutrisi terpenuhi secara optimal.
Terkait wacana uji coba penyajian MBG dengan sistem prasmanan di sekolah, BHS menganggap inovasi BGN tersebut patut didukung. Namun, ia menekankan perlunya kajian matang terkait biaya operasional, kesiapan sarana, serta pengawasan kebersihan.
“Konsep ini menjadi salah satu inovasi yang perlu diperhatikan dari sisi teknis pelaksanaan, mulai dari kesiapan tempat, penyajian makanan, hingga kelancaran distribusi kepada siswa,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Mitra SPPG Siwalan Panji, Jalaluddin Alham, menyambut baik masukan dari kunjungan DPR RI. Ia menilai evaluasi tersebut sangat berguna untuk meningkatkan mutu pelayanan dapur gizi yang dikelolanya.
Mengenai opsi penyajian prasmanan, Jalaluddin menyoroti potensi pembengkakan anggaran operasional dalam pengerjaannya. Menurutnya, konsep tersebut membutuhkan penanganan khusus dalam hal logistik penunjang.
“Prasmanan itu bagus, tidak apa-apa. Cuma biasanya high cost, karena membutuhkan mobil sendiri untuk mengangkut,” ujar Jalaluddin.
