Langsung ke konten
Jumat, 6 November 2026
Jawa Timur

Gapasdap: Ketapang–Gilimanuk Tidak Kekurangan Kapal, Justru Kekurangan Dermaga

Ketua DPP Gapasdap Khoiri Soetomo/Foto : Istimewa

Banyuwangi – Keterbatasan jumlah dermaga dinilai menjadi penyebab utama belum optimalnya pelayanan penyeberangan di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Ketua Umum DPD Gapasdap Khoiri Soetomo menegaskan, antrean panjang kendaraan yang terjadi selama ini bukan disebabkan minimnya armada kapal, melainkan belum memadainya infrastruktur pelabuhan.

Menurut Khoiri, saat ini tersedia 56 kapal yang melayani lintasan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk. Namun, dari jumlah tersebut hanya sekitar 28 kapal yang dapat dioperasikan setiap hari karena terbatasnya fasilitas sandar.

“Artinya bukan hanya kendaraan logistik yang antre, tetapi kapal juga ikut antre untuk bisa beroperasi,” ujarnya usai rapat koordinasi di Pelabuhan Ketapang, Sabtu (11/7).

Ia menjelaskan, idealnya lintasan penyeberangan tersibuk kedua di Indonesia setelah Merak–Bakauheni tersebut memiliki sedikitnya 14 pasang dermaga agar seluruh armada dapat dimanfaatkan secara maksimal.

“Dengan jumlah kapal yang 56, seyogianya paling tidak di lintasan Ketapang-Gilimanuk ini setidak-tidaknya, idealnya, harusnya punya 14 pasang dermaga di Ketapang maupun di Gilimanuk,” katanya.

Khoiri berharap pemerintah dapat menambah sedikitnya satu pasang dermaga setiap tahun apabila pembangunan seluruh kebutuhan dermaga belum dapat direalisasikan sekaligus.

Ia optimistis penambahan infrastruktur tersebut akan mengurangi antrean kendaraan yang selama ini selalu terjadi pada periode libur panjang maupun hari besar keagamaan.

Selain itu, Khoiri mendukung langkah PT ASDP Indonesia Ferry yang berencana meningkatkan kapasitas dermaga dari 35 ton menjadi 50 ton.

Menurutnya, peningkatan kapasitas tersebut perlu dilakukan pada sedikitnya tiga pasang dermaga dalam satu hingga dua tahun ke depan agar kapasitas angkut lintasan penyeberangan meningkat secara signifikan.

Ia menegaskan, penyelesaian persoalan Ketapang–Gilimanuk membutuhkan komitmen pemerintah karena jalur tersebut merupakan penghubung utama Jawa, Bali, NTB hingga NTT.

Tag