Langsung ke konten
Jumat, 6 November 2026
Jawa Timur

Gapasdap Minta Pola TBB Ketapang-Gilimanuk Dievaluasi, Dinilai Tak Efektif Atasi Antrean

BANYUWANGI — Ketua Umum Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Khoiri Soetomo meminta penerapan pola tiba-bongkar-berangkat (TBB) di lintasan Ketapang-Gilimanuk dievaluasi karena dinilai belum efektif mengurai antrean kendaraan logistik.

Khoiri mengatakan pola TBB yang diterapkan sebagai respons terhadap kepadatan kendaraan di Pelabuhan Ketapang belum mampu menambah kapasitas pelayanan secara signifikan.

“Kami memahami bahwa pola TBB dimaksudkan sebagai respons cepat agar kapal dapat segera kembali melayani antrean di Pelabuhan Ketapang, namun berdasarkan pengalaman para operator, efektivitas TBB sangat terbatas,” kata Khoiri dalam keterangannya, Senin.

Dalam mekanisme TBB, kapal mengangkut kendaraan dan penumpang dari Pelabuhan Ketapang menuju Gilimanuk. Setelah membongkar muatan di Gilimanuk, kapal langsung kembali ke Ketapang tanpa membawa muatan.

Menurut Khoiri, pola tersebut tidak menambah kapasitas dermaga maupun secara otomatis meningkatkan jumlah perjalanan kapal. Waktu pelayaran dan proses pemuatan dari Ketapang tetap berlangsung, sedangkan kapal masih menggunakan dermaga yang sama dengan kapal reguler.

Ia menjelaskan kapal yang kembali ke Ketapang juga belum tentu dapat langsung bersandar karena masih terdapat antrean kapal di perairan. Penghematan waktu sekitar 15 menit karena kapal tidak melakukan pemuatan di Gilimanuk dinilai belum cukup menghasilkan tambahan perjalanan.

Di sisi lain, kendaraan dan penumpang yang telah menunggu di Pelabuhan Gilimanuk harus menunggu kapal berikutnya.

“Persoalan tidak selesai, tetapi berpotensi hanya berpindah ke sisi lain, disertai tambahan risiko keselamatan akibat bertambahnya pergerakan dan antrean kapal pada area perairan Selat Bali yang terbatas,” ujarnya.

Khoiri mengatakan pola TBB masih mungkin diterapkan dalam kondisi tertentu, misalnya arus mudik dan balik Lebaran ketika permintaan angkutan lebih dominan dari satu sisi.

Namun, kondisi saat ini berbeda karena kepadatan terjadi di Ketapang maupun Gilimanuk.

“Kondisi saat ini berbeda, kepadatan terjadi di kedua sisi, baik di Pelabuhan Ketapang maupun Gilimanuk. Kendaraan pada kedua pelabuhan sama-sama membutuhkan pelayanan,” katanya.

Gapasdap juga mendorong percepatan peningkatan kapasitas Dermaga MB II serta persiapan pengoperasian sementara untuk menghadapi Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.

Selain itu, perbaikan atau penggantian dua unit dolphin fender di Dermaga Bulusan, Ketapang, dinilai perlu segera dilakukan agar fasilitas tersebut kembali dapat melayani kapal, khususnya kendaraan berat.

Tag