SURABAYA — Penyebab tenggelamnya KMP Virgo Transport 8 di Laut Jawa tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan usia kapal maupun statusnya sebagai armada bekas. Pemeriksaan terhadap kondisi teknis dan kelaiklautan kapal dinilai harus menjadi dasar sebelum menentukan faktor penyebab kecelakaan.
Ketua Umum DPP Gapasdap Khoiri Soetomo mengatakan penggunaan kapal bekas atau *pre-owned vessel* merupakan praktik yang lazim dalam industri pelayaran, baik di Indonesia maupun negara lain.
“Dalam industri pelayaran, penggunaan kapal bekas atau pre-owned vessel merupakan praktik yang umum dan wajar, baik di Indonesia maupun di berbagai negara,” ujar Khoiri.
Menurut dia, keselamatan kapal tidak semata-mata ditentukan oleh apakah armada tersebut baru atau bekas. Kondisi aktual kapal, pemeliharaan, pemeriksaan berkala, serta pemenuhan standar keselamatan menjadi faktor yang lebih relevan dalam menilai kelaiklautan.
KMP Virgo Transport 8 diketahui merupakan kapal bekas Ferry Kurushima Jepang yang sebelumnya melayani rute Kokura-Matsuyama hingga 30 Juni 2025. Kapal tersebut kemudian dipindahkan ke Indonesia dan mulai dioperasikan PT Virgo Karya Shipping pada rute Surabaya-Banjarmasin sejak Juli 2026.
Khoiri mengatakan kapal bekas yang dioperasikan di Indonesia harus melalui sejumlah tahapan, mulai dari izin impor, kepabeanan, pendaftaran bendera Indonesia, pemeriksaan badan klasifikasi, sertifikasi keselamatan, hingga penerbitan Surat Persetujuan Berlayar oleh Syahbandar.
Pemeriksaan juga mencakup struktur kapal, mesin, sistem kedap air, perangkat navigasi dan dokumen stabilitas.
“Semakin tua usia kapal, pemeriksaan struktur, kelelahan material, korosi, sistem kedap air, pemeliharaan, serta riwayat modifikasinya memang harus semakin ketat,” katanya.
Ia meminta masyarakat tidak terburu-buru mengaitkan usia kapal dengan penyebab tenggelamnya Virgo Transport 8.
“Khusus mengenai penyebab insiden KMP Virgo Transport 8, sebaiknya menunggu hasil investigasi resmi KNKT. Jangan sampai ada yang mendahului investigasi atau menyimpulkan penyebab tanpa dukungan data dan pemeriksaan teknis yang lengkap,” ujar Khoiri.
